Selamat Datang di website Komunitas / Kelompok Tani Terpadu"CIPTA ENERGI" info tentang singkong sebagai salah satu komodit sumber ketahan pangan dan energi untuk masa depan kita.
Website ini masah dalam tahap perbaikan ,mohon maaf apabila banyak kekurangannya saran dan kritikan sangat kami harapkan dari pengunjung.
APABILA ANDA MEMPUNYAI SARAN DAN INFO TENTANG PERTANIAN DAN APA SAJA YANG POSITIF UNTUK KEMAJUAN PETANI DAN LAIN-LAIN DAN INGIN DIMUAT DALAM WEBSITE INI UNTUK DIKETAHUI UMUM SILAHKAN MENGIRIMKAN TULISAN DAN GAMBAR DENGAN UKURAN Max 400px X 400px MELALUI HALAMAN KONTAK KAMI
DPRD PROVINSI GORONTALO
SERIUS MENGEMBANGKAN SINGKONG
Ketua DPRD Prov.Gorontalo serius membudidayakan Singkong di Provinsi ini.Jumat kemarin pada saat Rapat sebelum RESES,melalui H.Moh.Kris Wartabone meminta pada Kadis Pertanian agar lebih memperhatikan/memfasilitasi petani/masyarakat yang sedang membudidayakan Singkong. Saat ini singkong/gaplek sesuai informasi dari pemerhati Singkong,bahwa Singkong sudah menjadi komoditi yang sangat dibutuhkan oleh beberapa negara ,seperti Cina membutuhkan minimal 5000 Ton Singkong kering/gaplek setiap bulan.
GARAM LOKAL MULAI DAPAT PERHATIAN PEMERINTAH...BENARKAH ???
JAKARTA: Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS Ma’mur Hasanuddin menagih janji Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menertibkan garam impor yang hingga saat ini masih banyak beredar di berbagai daerah.
Menurut Ma’mur di Jakarta, Rabu, sekarang sudah mulai memasuki panen raya garam sehingga pasokan garam meningkat dan jika masih ditambah beredarnya garam impor, akan semakin membuat keterpurukan harga garam dalam negeri.
“Masyarakat sudah mulai resah dengan jatuhnya harga garam, dan banyak kalangan yang mengindikasi ada garam masuk dari India dan Australia, padahal saat ini, masa panen raya garam sudah dimulai,” ujarnya.
Ma’mur melihat kondisi membanjirnya garam luar memasuki pasar domestik adalah murni kerjaan menteri perdagangan.
Jadi, katanya menambahkan, Menteri Fadel harap bisa berkomunikasi dengan menteri perdagangan agar segera mencabut izin impor garam ini terutama pada saat panen raya.
Hingga saat ini, penetapan harga garam dilakukan oleh pemerintah tidak ada dampak signifikan terhadap kesejahteraan petani. Penetapan harga yang semula Rp350 per kg menjadi Rp750 per kg masih belum memuaskan keinginan petani. Petani menginginkan penetapan harga Rp1.000 per Kg.
Keresahan petani juga bukan hanya masalah penetapan harga garam yang dilakukan pemerintah. Mereka juga merasa risih dengan masuknya gram impor yang mengakibatkan perusahaan-perusahaan garam enggan membeli garam petani.
Akibatnya, lanjut Ma’mur, hampir semua perusahaan garam yang membeli garam petani, tidak sesuai dengan harga yang di tetapkan pemerintah dengan membeli garam petani di bawah harga standar.
“Penertiban perniagaan garam ini adalah janji Menteri Kelautan dan Perikanan. Sekarang inilah, pada saat panen raya, Fadel membuktikan ucapannya di depan Komisi IV bulan lalu untuk menertibkan urusan gram nusantara,” demikian Ma’mur.
Suku Terasing POLAHI yang berada di Pegunungan Boliyohuto Kab.Gorontalo,keberadaan mereka saat ini sangat membutuhkan perhatian yang serius dari Pemerintah/Dinas Sosial,untuk menghindari perkawinan sedarah yang selama ini terjadi di lingkungan mereka.
Polahi adalah julukan untuk suku terasing yang hidup di hutan pedalaman Gorontalo. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, polahi adalah masyarakat pelarian zaman dahulu yang melakukan eksodus ke hutan karena takut dan tidak mau dijajah oleh Belanda sehingga menjadikan mereka sebagai suku terasing sampai dengan saat ini. Mereka hidup di pedalaman hutan daerah Boliyohuto, Paguyaman dan Suwawa, Provinsi Gorontalo.
Konon orang Polahi adalah pelarian pada zaman Belanda, yang katanya untuk menghindari pembayaran pajak. Jumlah mereka seluruhnya sekitar 500 orang, kira-kira 200 orang di Kecamatan Paguyaman dan 300 orang di Kecamatan Suwawa. Mereka tinggal di hutan dalam kelompok-kelompok kecil. Departemen Sosial di tingkat Kabupaten Gorontalo mengidentifikasi masyarakat Polahi dengan Kelompok 9, Kelompok 18, Kelompok 21, Kelompok 70, dan sebagainya, berdasarkan jumlah anggota kelompok dalam satu "kampung".
Literatur mengenai masyarakat ini tak ada. Bahasanya adalah dialek Gorontalo, dan menganut agama tradisional. Mereka hidup dari bercocok tanam alakadarnya dan berburu babi hutan, rusa, serta ular sanca. Belum mengenal pakaian seperti umumnya orang Indonesia, hanya memakai penutup syahwat dari daun palma dan kulit kayu. Rumah mereka sederhana, tak berdinding, dapur dibuat di tengah, juga berfungsi untuk penghangat. Mereka tak mengenal sekolah dan fasilitas kesehatan modern. Untuk mencapai Kelompok 9, diperlukan jalan kaki naik gunung sekitar tujuh jam.
Mereka terbelakang, tak hanya karena keterpencilan dan tak mempunyai pendidikan formal, bahkan dalam kebudayaan mereka tak dikenal hitung-menghitung dan tak dikenal hari. Atas bantuan para peneliti, saya dapat bertemu dengan tiga orang Polahi yang telah turun dari gunung. Angka maksimum yang dapat mereka hitung adalah empat. Selebihnya adalah "banyak". Sebelumnya saya mendengar bahwa orang Polahi hanya mengenal dua kriteria, yakni "satu" dan "banyak".
Kawin dengan saudara kandung adalah biasa. Sesepuh pada Kelompok 9 adalah seorang kakek tiga bersaudara, dua saudaranya itu perempuan. Dia mengawini kedua saudara kandungnya ini. Istrinya yang satu tak mempunyai anak, sedangkan satu lagi mempunyai enam anak, dua laki-laki dan empat perempuan. Anaknya mengawini anaknya, sehingga anaknya menjadi menantunya. Dengan mudah dapat dibayangkan betapa beratnya tantangan untuk memajukan masyarakat ini, mengintegrasikannya dengan pembangunan di Indonesia
Minggu 3 April 2011
Bapak Erdinsyah O.M staf PT.EN3 GREEN ENERGY bersama Frans YM,Ketua Kelompok Tani "CIPTA ENERGI" sedang menikmati Singkong dan Sate Singkong Gajah di Kebun Singkong Pak Niko S.Paneo di Desa Bululi Kec.Asparaga Kab.Gorontalo Prov.Gorontalo,menurut Bpk Erdinsyah hasil Singkong Gajah yang ada di Lahan Pak Niko bobotnya lebih berat di bandingkan dengan Singkong yang ada Kab.Gowa dan Kab.Takalar Prov SulSel.Apabila ini dikembangkan secara serius akan meningkatkan pendapatan petani dan menambah PAD Gorontalo umumnya.Bpk Erdinsyah OM.adalah Putra Gorontalo yang telah lama berkecimpung di Bisnis Singkong,menurutnya kebun Singkong yang dikelola oleh Perusahaan tempat beliau bekerja dalam 1 Ha hanya menghasilkan paling banyak 30 s/d 35 Ton Singkong basah dibandingkan dengan lahan Singkong Gajah di Kebun Pak Niko SP,yang mencapai 60 s/d 80 Ton/1Ha.
Singkon Gajah umur 4,5 bulan Berat 6,4& 8,7 Kg di Kebun Bpk.Niko S.Paneo Desa Bululi Kes.Asparaga Kab.Gorontalo Provinsi.Gorontalo
Kebun Singkong Gajah Temuan Proof.Dr.Ristono.MS /Umur 4,5 bulan yang dikembangkan Pak Niko S.Paneo di lahan sekitar 30Ha di Desa Bululi Prov.Gorontalo.-Kelompok Tani "Cipta Energi"
Wakil Ketua DPRD Prov.Gorontalo Bpk Hi.Hamid Kuna (2) dan penemu varitas Singkong Gajah Prof.Dr.Ristono.MS (1) bersama komisi II DPRD Prov.Gorontalo serta pejabat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov Gorontalo di Depan Sekolah Tinggi Tehnologi Migas Balikpapan setelah selesai mengikuti pemaparan tentang potensi Singkong Gajah sebagai Ketahanan Pangan dan Sumber Energi Alternatif Bahan Bakar Minyak
Tindak lanjut dari kedatangan Kelompok Tani "CIPTA ENERGI" ke DPRD Prov.Gorontalo yang meminta dukungan pengembangan/budidaya Singkong Gajah tgl 14 Maret 2011, Komisi II DPRD Prov.Gorontalo bersama Pejabat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov.Gorontalo telah melakukan Stuban Potensi/Prospek Singkong Gajah ke Balikpapan pada tanggal 17 s/d 18 Maret 2011.Bukti keseriusan DPRD menanggapi keinginan/aspirasi petani yang ingin menanam Singkong Gajah yang lebih menguntungkan dari pada bertani Tebu yang ternyata tidak dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani bahkan merugikan mereka.
SINGKONG GAJAH 61 Kg di Tarakan /LSM BEC
Bpk Walikota dan Sekda Kota Tarakan mencicipi Singkong Gajah yang baru di panen / LSM BEC
Minta Dukungan Ganti KSO dan Penanaman Singkong Gajah
Puluhan Petani Tebu Datangi Deprov Marten : Kami Dukung Keinginan Petani Tebu
GORONTALO (RADAR) –15 Maret 2011
Puluhan petani tebu dari Paguyaman dan Asparaga Desa Bululi mendatangi Deprov Gorontalo, untuk menyampaikan aspirasi mereka untuk mengganti KSO Perkebunan Tebu. Masa yang sebagian besar petani tebu ini meyampaikan juga bahwa mereka berencana menanam Singkong Gajah, Karena lebih memiliki prospek yang sangat menguntungkan bagi petani. Atas dasar inilah puluhan petani tebu tersebut mendatangi deprov, dengan harapan agar aspirasi mereka tersebut mendapatkan dukungan Deprov dan pemerintah provinsi.
Di hadapan ketua Deprov Gorontalo, Marten Taha, para petani ini menyampaikan bahwa, setelah beberapa tahun menanam tebu yang terkait dengan KSO, kesejahteraan petani tidak meningkat. Untuk itu meraka ingin menanam singkong gajah, yang sangat cocok dengan iklim tanah garapan meraka, serta memiliki prospek ekonomi yang lebih baik. Ketua Deprov Gorontalo, Marten Taha saat dimintai penjelasannya mengatakan bahwa, sebagai pimpinan deprov Gorontalo pihaknya sangat mendukung keinginan para petani tebu tersebut. “Deprov mendukung keinginan para petani, sepanjang rencana mereka menanam singkong gajah tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan petani tebu,” tegas Marten Taha.
Lebih lanjut Marten Taha megatakan, Deprov memberikan dukungan penuh sepanjang hal itu untuk kebaikan dan peningkatan ekonomi rakyat. Menurut Marten, rencana petani menanam singkong gajah ini memiliki prospek ekonomi yang sangat baik, yakni akan melahirkan industry rumahan yakni pembuatan keripik singkong serta penganan lainnya. Selain itu kata Marten bahwa, jika rencana penanaman singkong gajah ini berhasil, maka ini akan menjadi keberhasilan kedua provinsi Gorontalo, setalah sebelumnya sukses dengan program agropolitan. “Kalau Provinsi Lampung terkenal dengan tanaman pisang dan Kopi, saya sangat berharap Gorontalo akan terkenal dengan tanaman jagung dan singkong gajah,” tegas Marten.
Dengan tegas marten mengatakan, setelah menerima aspirasi dari puluhan petani tebu tersebut, sebagai Ketua Deprov pihaknya telah meminta komisi II untuk segera melakukan rapat dengan Dinas pertanian dan Perkebunan Provinsi Gorontalo. “Ide untuk menanam singkong gajah ini sangat baik dan ini merupakan terobosan yang menarik. Untuk itu saya telah meminta Komisi II segara mengundang Dinas Pertanian Provinsi untuk menggelar rapat,” tegas Marten Taha (RG-22) Aa
Pengurus Kelompok Tani "CIPTA ENERGI" Sat berkunjung ke Kebun Singkong Gajah temuan Prof.Dr.RISTONO.MS.di Balikpapn.
Karakteristik Singkong Gajah
Singkong gajah adalah singkong varietas ”Asli” Kalimantan timur yang ditemukan oleh Prof. Dr. Ristonom, MS dan dipublikasikan melalui Koran Lokal di Kalimantan Timur dan internet sejak tanggal 08 Juli 2008. Sosialisai dan pengembangan dimulai tanggal 01 Juni 2009 dengan acara “Panen Raya dan Bazaar di Desa Bukit Pariaman ( Separi 1) Kec. Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.
Dalam rangka penelitian dan pengkajian yang telah dilakukan oleh Prof. Dr. Ristono, MS dengan LSM (lembaga swadaya masyarakat) BEC (Borneo Environmental Community) yang dipimpinnya, dirumuskannya bahwa Produksi (P) tergantung pada Sumberdaya Alam (S), Sumberdaya Manusia (M), Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (T), Iman dan Taqwa (I), dan Keuangan (U). P menunjukkan berbagai variasi hasil dalam sstuan berat umbi basah cabutan per stek pada umur 6 - 9 bulan dengan berat 7 kg - 42 kg. Hasil cabutan 01 Juni 2009 di Separi 1 diperoleh sampel seberat 29 kg sedangkan dari berbagai sampel cabutan dengan umur antara 4 - 9 bulan memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa rasa ketan. Berbagai jenis olahan menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa keripik, gethuk, tape, bahan sayur pengganti kentang, dan kue yang diberi nama Proll Tape. Tanaman pada umur 9 - 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek namun kurang pas untuk diolah langsung sebagai makanan olahan langsung jadi karena seratnya yang mulai mengeras, Singkong pada umur ini lebih tepat dupabrikasi menjadi Tepung Tapioka (Kanji), Tepung Mokal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol.
Dengan demikian Singkong Gajah memiliki nilai strategis secara nasional yang juga memiliki potensi bahan ekspor sebagai bahan baku makanan dan minuman, kesehatan, dan sumber bahan bakar nabati (bio-energi)
Singkong Gajah yang dikelola dengan baik akan mampu memberikan solusi tentang kemiskinan, pengangguran, tindakan anarkis, moral spiritual dan ketahanan pangan. Produktivitas tinggi akan bisa dicapai melalui program kursus dan pelatihan sehingga berbagai produk riset, pengembangan dan motivasi akan terus menerus mendampingi karateristik Singkong Gajah yang potensial menuju ke arah yang lebih baik